Hadiri Sidang Kasus Penganiayaan Djuli Mambaya : Tidak Ada Maaf Bagi JRM

Kamis, 05 Juli 2018 | 19:21 WITA

Hadiri Sidang Kasus Penganiayaan Djuli Mambaya : Tidak Ada Maaf Bagi JRM

MCWNews.com - MAKALE | Persidangan kasus penganiayaan oleh terdakwa John Rende Mangontan (JRM) terhadap Djuli Mambaya (DJM), kembali digelar, di Pengadilan Negeri Makale, Tana Toraja, Rabu (4/7/18) mendapat pengawalan dari petugas kepolisian  belum lama ini.

Persidangan yang sudah berjalan sejak tanggal 7 Mei 2018 lalu akhirnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi korban yakni DJM.

Sidang dipimpin Ketua Majelis H.Muh Djamir SH, dengan hakim anggota Wempy W.J.Duka SH, dan Anender SH. Saksi pelapor Djuli Mambaya mengaku, dirinya malu dengan kejadian di saat pentabisan Gereja di Malakiri. Setelah kejadian saya segera tinggalkan lokasi karena juga mendapat ancaman dari terdakwa.

”Penganiayaan dimuka umum membuat keluarga saya malu, karena itu sudah tidak terbuka lagi pintu maaf,” ujar Djuli Mambaya.

Terdakwa John Rende Mangontan, didampingi penasehat hukumnya Frans Lading, dan Jhoni Paulus, tidak menampik jika asal mula penganiayaan karena persoalan ciutan di medsos proyek di Papua. Moment ini pun menjadi moment pertama kalinya JRM dan DJM, bertatap muka satu dengan lainnya,  dan disaksikan oleh banyak pihak kedua keluarga.

Dalam kesaksiannya, DjM sebagai korban mengatakan tidak ingin berdamai dengan terdakwa, karena sudah beberapa kali memberikan kesempatan kepada JRM untuk datang langsung ke Gereja dimana dirinya melakukan penamparan namun hal itu tidak pernah di indahkan olehnya.

“Saya sudah pernah membuka pintu maaf kepada terdakwa, namun hal itu tidak direspon dengan baik. Bahkan saya sudah mengarahkan ke terdakwa untuk datang langsung ke Gereja untuk memohon maaf, karena apalah daya saya ketika Tuhan sudah memaafkan beliau,” ucap Djuli dihadapan Hakim.

Lanjut DJM, saat ini dirinya sudah tidak bersedia memaafkan, karena bukan hanya penamparan yang dilakukan oleh terdakwa. Ia juga mengaku pernah dikirimkan gambar tidak senonoh oleh terdakwa, bahkan gambar tersebut juga dikirimkan ke istri dan anak Djuli..


“Biarkanlah proses hukum berjalan, tidak akan ada kata maaf. Apalagi ia telah melakukan hal yang tidak pantas terhadap keluarga saya, yakni mengirimkan gambar pornoh ke saya, istri dan anak saya.,” Imbuh Kepala Dinas PUPR Provinsi Papua itu.

Masih dalam ruang sidang, Jhon Rende Mangontan, menanggapi pernyataan DJM terkait permohonan maaf atas kasus tersebut.

Menurutnya, dirinya telah melakukan permohonan maaf melalui Media beberapa saat setelah insiden tersebut.

“Saya telah melakukan permohonan maaf terkait insiden tersebut melalui awak media, dengan cara melakukan konfrensi pers dan didampingi oleh salah satu pengurus inti Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja,” ujar JRM.

Isi dari permohonan maaf JRM yakni memohon maaf kepada panitia pentabisan Gereja dan Panitia Praya PPGT atas ketidak nyamanan yang timbul atas terjadinya insiden tersebut. Pemohonan kedua ditujukan kepada DJM atas penamparan tersebut.

Sementara itu, AKP Yakop Parinding, yang saat ini menjabat sebagai Kapolsek Makale yang tak lain adalah Kapolsek sa’dan saat itu, mengaku jika tidak melihat secara detail peristiwa penganiayaan itu. Yakop tidak mengetahui, apakah John melakukan penamparan atau tinju.

“Yang jelas jika tangan terdakwa meninju maka tidak mungkin mengenai wajah korban karena jarak keduanya yang agak sedikit berjauhan,” terang Yakop.

Yakop Parinding mengaku saat kejadian dirinya berada diantara korban dan pelaku, dan langsung melerai keduanya saat penamparan terjadi. Pernyataan ini berbeda dengan pengakuan korban yang menyatakan tidak ada yang melerai.

(Saldi)


Kamis, 05 Juli 2018 | 19:21 WITA


TAGS:




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

+