Peringati HKN ke 54, Kadiskes : Masyarakat Papua Harus Sadar Akan Kesehatan

Selasa, 13 November 2018 | 08:00 WITA

Peringati HKN ke 54, Kadiskes : Masyarakat Papua Harus Sadar Akan Kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai,M.Kes

MCWNews.com - JAYAPURA | Memperingati Hari Kesehatan Nasional ke -54, seluruh masyarakat Papua diminta sadar akan kesehatan. Selasa (13/11/2018).

Bertema 'Ayo Kita Cinta Sehat', warga diajak Membiasakan hidup sehat. Dimulai dari diri sendiri, lalu keluarga dan lingkungan sekitar, dengan begitu Provinsi Papua akan menjadi wilayah yang jauh dari penyakit kronis.

"Harus berubah dari perilaku yang kurang baik menjadi baik. Dengan melalui ayo kita cinta sehat kita mulai dan memberikan contoh yang baik kepada seluruh rakyat Papua terlebih menjelang PON XX Papua. Kita harus bisa memperlihatkan pola hidup sehat itu,"kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai,M.Kes.

Aloysius menyebut capaian kesehatan  di Papua lima tahun terakhir dinilai cukup bagus. Hanya ada beberapa cakupan program yang belum mencapai standar nasional. Misalkan eliminasi malaria di Papua dan pemberian imunisasi MRP.

"Cakupan API (annual paracite incident) masih tinggi diangka 30-an, padahal harunya dibawah 5. Saya harapkan diakhir tahun ini harus zero, atau dibawah 1,"katanya.

Lalu, pemberian imunisasi Measles Rubella dan Polio (MRP), dari target 1 juta anak ditahun ini, Papua baru mencapai 68000 anak. Namun, Aloysius menyebut angka itu telah melampaui capaian periode sebelumnya.

Angka tersebut kata dia akibat belum maksimalnya pemberian imunisasi MRP diwilayah Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Puncak Jaya, Tolikara, Jayawijaya dan Pegunungan Bintang.

"Dikabupaten-kabupaten itu terjadi konflik, sehingga pemberian imunisasi tidak maksimal. Namun kita upayakan per 31 Desember kita bisa melampaui target nasional 95 persen,"katanya.

Sementara angka cakupan yang mengalami trend posisi adalah cakupan kesehatan ibu dan anak. Angka kematian ibu dari 575 per 100.000 di tahun 2013, kita turunkan diangka  270 per 100.000 kelahiran per angka kelahiran diperiode ini. Sementara untuk kematian bayi, bisa ditekan drastis, dari 52 per 1000 ditahun 2013 kelahiran, sekarang 8 per 1000 saat ini kelahiran. Artinya angka kematian bayi menurun.

"Meski ada KLB (Kejadian Luar Biasa), namun itu kasus, bukan cakupan keseluruhan. Kesadaraan akan gizi masih rendah, dan juga warga enggan melakukan persalinan di fases K1, K2 atau K4. Sehingga bayi rentan akan rendahnya kekebalan,"ungkapnya.

Meski masih ada capaian pelayanan yang kurang, namun Aloysius mengaku angka kesehatan di Provinsi Papua di lima tahun terkahir telah membaik.

(Ed)


Selasa, 13 November 2018 08:00


TAGS:




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

+