Rencana Pemindahan Ibukota, Begini Kata Pakar

Jumat, 03 Mei 2019 | 13:57 WITA

Rencana Pemindahan Ibukota, Begini Kata Pakar

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies Jerry Massie

MCWNews.com - JAKARTA | Wacana pemindahan ibukota Indonesia menuai pro-kontra, Namun banyak yang berpendapat rencana tersebut harus segera dilakukan mengingat Jakarta kini sudah sangat padat dan macet.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies
Jerry Massie, mengatakan alasan pertama Jakarta macet parah bagaimana mengatur pemerintahan kalau macet. Apalagi Jakarta masuk urutan ke-12 kota paling macet di dunia. Data yang ada setiap hari ada 1500 kendaraan baru masuk Jakarta dan motor di Jakarta ada 8 juta dari 111 juta kendaraan di seluruh Indonesia. Sedangkan panjang jalan hanya 700 km. Bandingkan Tokyo Jepang panjang rel kereta api saja mencapai 23.670 Km.

"Saya sangat sepakat dan setuju jika Indonesia capital  dipindahkan. Kendari anggarannya cukup gede yakni Rp 466 triliun. Namun, dipindahkannya ada berbagai pertimbangan dan alasan," kata Jerry.

Dana ini lebih sedikit dengan permintaan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yakni Rp 571 triliun. Jika disetujui, maka tinggal mencari lokasi strategis.

"Kalau kita memakai teori X dan Y maka ada kekurangan dan kelebihan jika ibukota dipindahkan. Berkaca dari Malaysia yang berhasil memindahkan kota pemerintahannya. Dari Kuala Lumpur ke PutraJaya. Tapi, kota bisnis tetap Kuala Lumpur. Cina saja ada Peking ibukota dan kota bisnis Shanghai," imbuhnya.

Jerry menambahkan, Begitupula di Amerika Serikat (AS) Washington DC capital and goverment city (ibukota dan kota pemerintahan). Contih lain di AS New York ibukotanya Albany dan kota bisnisnya Manhattan. Washington ibukota Olimpia kota bisnisnya Seattle.

Alasan lainnya, imbuh Jerry, kualitas jalan di Jepang berada di urutan kelima pada 2016 dengan skor 6,1. Jepang mengalahkan negara-negara maju di Eropa seperti Prancis (6), Denmark (5,7), Jerman (5,6), maupun Spanyol (5,5).

Kalau dibandingkan antara jalan Indonesia dan Jepang cukup jauh, total jalan di negeri Sakura ini mencapai 1,2 juta km, sementara total panjang jalan di Indonesia tak sampai setengahnya yakni 496 ribu km. Indonesia, negara dengan luas daratan mencapai 1.922.570 km², ternyata memiliki jalan yang lebih sedikit ketimbang Jepang yang luas daratannya hanya 374.744 km² atau hanya 85 persen dari luas Pulau Sumatera. 

Sisi Kedua, flood (banjir). Memang berat kalau ibukota kerap banjir. Memang Jakarta terdiri dari rawa, kali, kuala jadi tanahnya kurang baik. 

Presiden Soekarno dalam tulisan Cindy Adams dalam bukunya : "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat", pernah mau memindahkan ibukota ke Jogjakarta.  "Kita akan memindahkan ibu kota besok malam. Tidak ada seorang pun dari saudara boleh membawa harta benda. Aku juga tidak," kata Soekarno.Maka disusun satu rencana nekat. Pada tanggal 3 Januari 1946 jelang tengah malam disadur dari wikipidia, sebuah gerbong kereta yang ditarik dengan lokomotif uap C.2809 buatan Henschel (Jerman) dan dimatikan lampunya berhenti di belakang rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 (Menteng) yang terletak di pinggir rel KA antara Stasiun Manggarai dan Gambir.

Jumlah penduduk Indonesia saat ini 265.015 juta sedangkan di Jakarta pada 2017 menjadi 10,37 juta jiwa. Nah! masalah kepadatan menjadi acuan. Apalagi masalah lain yakni noisy atau kebisingan. Kepadatan, Kebanjiran, Kebisingan, Kemacetan, Kerawanan menjadi pertimbangan ibukota dipindahkan.

"Jadi dalam hal ini masalah demografi dan topografi dan geografi perlu dilihat. Goal setting atau sasaran Ini adalah long term (jangka panjang) bukan mid term (jangka menengah) atau short term (jangka pendek)," pungkasnya. (*)


Jumat, 03 Mei 2019 13:57


TAGS:




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya:

 

+