Lembaga Adat di Mimika Beri "Kartu Kuning" untuk Freeport

  • 18 Februari 2020 06:42 WITA
Males Baca?

MCWNews.com - TIMIKA | Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko), Kabupaten Mimika akan mengakomodir masyarakat adat Asmat dan Kaimana untuk menerima manfaat dana kemitraan dari PT. Freeport Indonesia. 

Ketua Lemasko Gergorius Okoare mengatakan, masyarakat pesisir di kedua kabupaten itu memiliki kultur budaya yang sama dengan Kamoro dan terdampak dari penambangan Freeport di Mimika.

"Kami dari lembaga melihat ini bahwa yang mendapat dampak langsung itu bukan cuma Suku Kamoro, tetapi juga masyarakat yang serumpun di wilayah pesisir seperti Asmat sampai Kaimana," katanya di Timika, Selasa (18/2).

Menurut Geri, sudah 23 tahun LPMAK yang kini berubah menjadi YPMAK mengelola dana kemitraan (satu persen) dari PT. Freeport Indonesia, namun masyarakat di pesisir pantai yang terdampak belum menerima manfaat apapun. 

"Jadi ini sebenarnya pembohongan terhadap kita di pesisir. Karena yang kena dampak kan kita, dampaknya meluas ke mana-mana dan semakin meluas," katanya.

Untuk itu, Geri menegaskan bahwa Asmat dan Kaimana serta kemungkinan termasuk Fakfak ke depan harus bergabung di Mimika untuk menerima manfaat dana Kemitraan dari Freeport melalui YPMAK.

"Saya tegaskan lagi, ke depan tidak hanya 5 suku kekerabatan yang mendapat manfaat dari Freeport. Tapi kami semua di pesisir, Asmat dan Kaimana harus dapat dan gabung ke Lemasko. Fakfak lagi ke depan," ujarnya. 

Program kesehatan, pendidikan dan ekonomi oleh YPMAK, kata Geri, yang selama ini hanya dinikmati masyarakat Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan asal pegunungan, ke depan juga harus dirasakan masyarakat di wilayah pesisir. 

"Kita di wilayah pesisir adalah masyarakat adat Bomberay, bukan Meepago. Budaya masyarakat Meepago tidak sama dengan kami di wilayah pesisir. Kalau kami ditarik ke Meepago itu salah besar," ujarnya.

Geri lantas memberikan peringatan "kartu kuning" kepada Freeport yang menjadi donatur tunggal untuk YPMAK, dimana operasi mereka telah berdampak pada masyarakat di wilayah Bomberay. 

"Saya pikir semua orang tahu bahwa dampak dari operasi Freeport ini semakin meluas dari waktu ke waktu di wilayah pesisir pantai. Sementara masyarakat yang kultir budaya sama dengan kami Kamoro, tidak menerima manfaat sama sekali," sesalnya. 

Dengan demikian, kata Geri lagi, Lemasko meminta Freeport, pemerintah daerah, Amungme dan lima suku kekerabatan lain, untuk memahami posisi Asmat dan Kaimana masuk di Mimika agar bisa mendapatkan manfaat dari Freeport. 

Pada kesempatan memberikan pernyataan ini, Geri menerima dokumen wilayah adat dan data dampak operasi PT. Freeport Indonesia dari perwakilan masyarakat adat Asmat. 

"Dana satu persen dinikmati oleh orang lain saja. Sudah waktunya Asmat dan Kaimana ikut menikmati. Asmat, Kaimana dan Kamoro sudah bersatu, terpisah dengan beberapa suku di pegunungan," kata Felix Owom, perwakilan dan juga kepala suku di Asmat. (Sev)



TAGS :

Komentar