Baku Tembak di Papua Terus Berlanjut di Tengah Pandemi COVID-19

  • 10 April 2020 21:35 WITA
Males Baca?

MCWNews.com - TIMIKA | Pemerintah daerah dan aparat keamanan di Papua tidak hanya menghadapi darurat wabah virus corona baru (COVID-19), tetapi juga kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang terus beraksi di wilayah itu.

Berdasarkan data Satgas COVID-19 Provinsi Papua hingga Kamis (9/4) malam, sebanyak 48 warga yang tersebar di lima kabupaten wilayah itu terkonfirmasi positif terjangkit COVID-19.

Sementara pada Kamis pagi, aparat gabungan TNI/Polri terlibat kontak tembak dengan KKB di Iwaka, Kabupaten Mimika, salah satu daerah yang masuk dalam zona merah penyebaran COVID-19 di Papua.

Dua orang anggota KKB terpaksa ditembak mati dalam insiden baku tembak tersebut, karena menurut aparat kelompok separatis ini melakukan perlawanan saat terjadi penyergapan.

Kelompok sipil bersenjata ini diduga terlibat dalam penyerangan kantor PT. Freeport Indonesia di Kuala Kencana yang menewaskan seorang karyawan asal Selandia Baru, Graeme Thomas Wall, Senin 30 Maret lalu.

"Benar, telah dilakukan penegakan hukum terhadap KKB yang melakukan penembakan di kantor PT. Freeport Indonesia (OB 1) Kuala kencana," kata Kapolres Mimika AKBP I Gusti Gde Era Adhinata.

AKBP Era mengatakan, kelompok bersenjata disinyalir sempat memasuki area perkotaan kemudian berbaur dengan masyarakat di tengah wabah virus corona merebak. 

Meski begitu, kata dia, aparat sudah bisa memetakan lokasi tempat persembunyian KKB, serta mengidentifikasi jaringan mereka yang selama ini menyokong berbagai keperluan termasuk bahan makanan. 

"Dan kami tetap akan melakukan tindakan tegas dengan melakukan pegejaran terhadap KKB yang telah melakukan tindakan melawan hukum," tegas Era. 

Pada Jumat (10/4) siang, aparat keamanan lagi-lagi terlibat kontak tembak dengan KKB di Tembagapura, wilayah dataran tinggi kabupaten Mimika dekat tambang emas dan tembaga PT. Freeport Indonesia.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang oleh pemerintah Indonesia disebut KKB, telah mengumumkan gencatan senjata di tengah pandemi COVID-19.

Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, tawaran gencatan senjata kepada pemerintah Indonesia demi kemanusiaan, sehingga rakyat Papua bisa menghadapi COVID-19 tanpa operasi militer. 

"Indonesia harus setuju (gencatan senjata). Supaya jangan lagi rakyat ketakutan akibat operasi militer yang dilakukan TNI/Polri," kata Sebby. 

Namun demikian, tawaran gencatan senjata oleh TPNPB bukan tanpa syarat. Pemerintah Indonesia harus menarik semua pasukan militer baik dari unsur TNI maupun Polri dari wilayah Papua dan Papua Barat. 

Sebby berujar, rakyat Papua kini benar-benar dalam bahaya, baik oleh ancaman virus corona, disisi lain mereka harus waspada dengan operasi militer dan baku tembak yang terus berlangsung. 

"Kasihan rakyat takut Covid-19 kah atau takut kehadiran pasukan militer dan polisi Indonesia dalam jumlah besar," katanya. 

Meski begitu, pernyataan Sebby Sambom dengan mengajak gencatan senjata justru berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Pasukan TPNPB justru menyerang kantor PT. Freeport Indonesia di Kuala Kencana, Timika, begitu para karyawan selesai menggelar rapat guna membahas penanganan COVID-19 di lingkungan perusahaan.

Vice Presiden Security and Risk Management PT. Freeport Indonesia Arief Nasuha mengatakan, rapat terkait pencegahan penyebaran virus corana dilakukan menyusul ditemukannya seorang warga di Kuala Kencana positif Covid-19

“Rapat tersebut hanya membahas Covid-19, tidak ada yang lain,” kata Nasuha di Kuala Kencana, Timika, Selasa (31/3).

Rapat membahas Covid-19 tersebut diikuti oleh seluruh pimpinan perusahaan di area dataran rendah, termasuk tiga orang yang menjadi korban penembakan.

“Setelah rapat dan hendak meninggalkan OB 1, ketiganya tertembak oleh KKB,” ujar Arief. (Sev)



TAGS :

Komentar