Tokoh Adat Ajak Warga Papua Tidak Terprovokasi Isu Rasis

  • 10 Juni 2020 21:00 WITA
Ondofolo Yanto Eluay
Males Baca?

MCWNEWS.COM, JAYAPURA - Tokoh adat (Ondofolo) Sereh Sentani Yanto Eluay meminta warga Papua tak terprovokasi atas isu rasisme yang santer disuarakan pasca tewasnya George Floyd oleh oknum polisi Amerika dan proses hukum Tujuh terdakwa kasus demo anarkis tahun lalu.

Ondofolo Yanto Eluay menganggap tatanan hidup berdampingan di Papua kini telah pulih kembali pasca demo rusuh di Jayapura akibat persekusi yang terjadi di Surabaya saat itu, provokasi hanya akan berdampak buruk dan menggores trauma lama yang tidak diinginkan semua masyarakat.

"Saya sebagai salah satu tokoh adat Papua di Jayapura, saya menghimbau agar, jangan kita terprovokasi, jangan kita ikut mempolitisir seakan-akan ini adalah Tahanan Politik yang berbau rasisme. Boleh memberi dukungan moril untuk penegakan hukum yang baik, namun jangan lupa kita negara hukum, semua ada prosesnya," kata Ondofolo Yanto, saat ditemui di Pendopo Adat di Sentani, Rabu (10/6).

Dikatakan, tidak ada seorangpun yang kebal terhadap hukum atas permasalahan yang dilakukan, baik Orang Asli Papua maupun non Papua. 

"Hukum adalah panglima tertinggi dinegara kita, siapapun dia apakah Orang Asli Papua atau saudara kita yang lain, tidak ada yang diistimewakan atau dikhususkan dalam menghadapi persoalan hukum. Seperti tujuh saudara kita yang saat ini menjalani proses hukum di Kalimantan Timur," ucapnya.

Dikatakan, dengan provokasi atau politisir kasus hukum tujuh terdakwa tersebut malah berdampak buruk bagi masyarakat Papua. 

"Kita melihat bahwa dimedia massa maupun di medsos ada reaksi-reaksi masyarakat Papua yang saya kira tidak perlu terlalu berlebihan. Biarlah proses ini berjalan sesuai dengan yang berlaku di Republik ini. Mari kita sama-sama menyikapi secara objektif bukan subjektif," jelasnya.

"Mari kita sama-sama menyikapi ini dengan baik, tunjukkan bahwa kita sebagai masyarakat asli Papua adalah masyarakat yang taat hukum. Ada prosesnya, ada tahapannya, gunakan jalur hukum jika dirasa kurang, bukan provokasi yang dampaknya luas. Jangan membentuk opini yang menimbulkan reaksi warga disini," tegasnya.

Terkhusus kepada mahasiswa, Ondofol berharap semua mahasiswa Papua menjalani perkuliahan yang baik meski dalam masa pandemi Covid-19.

"Masa depan Papua ada ditangan kalian adik-adik mahasiswa, belajar saja yang baik untuk masa depan kalian. Tidak usah terprovokasi, tidak usah berlebihan menyikapi proses hukum saudara-saudara kita. Ada jalur yang bisa ditempuh. Yang harus juga kita lakukan adalah menjaga Papua kita ini tetap damai," ucapnya.

Tujuh orang terdakwa yang diadili di Balikpapan Kalimantan Timur adalah Ketua Badan Legislatif United liberation Movement for West Papua (ULMWP) Buchtar Tabuni, Ketua umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Agus kossay, Ketua KNPB Mimika Steven Itlay, BEM USTJ Alexander Gobay, BEM Uncen Fery Kombo, Hengky Hilapok, dan Urwanus Uropmabin.

Ketujuhnya terdakwa dituntut hukuman 5-17 tahun penjara dengan disangka pasal Makar. (Ed)



TAGS :

Komentar