Empat Pelaku Pengeroyok Lutfi Hingga Tewas Akhirnya Diadili

  • 11 Juni 2020 18:50 WITA
Males Baca?

MCWNEWS.COM, DENPASAR - Empat orang pelaku penganiayaan di pos depan Bank Panin Monumen Groundzero Jalan Legian, Kuta, Badung hingga menyebabkan Muhammad Lutfi meninggal dunia mulai menjalani sidang.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Made Gde Bamaxs Wira Wibowo menjerat keempat terdakwa yakni I Wayan Mahendra alias Hendra (26), I Wayan Widarta (49),Wayan Sudanta (37) dan I Wayan Miasa (40) dengan pasal berlapis.

Yakni Pasal 170 Ayat (2) ke 3 KUHP dalam dakwaan pertama, dan Pasal 351 Ayat (3) Jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHP dalam dakwaan kedua. Keempatnya terancam pidana penjara selama 7 tahun.

Dalam dakwaan diterangkan, penganiayaan oleh para terdakwa yang sebagian merupakan oknum petugas Jagabaya bermula ketika melihat masyarakat mengamankan korban karena dituduh mencuri helm, Jumat (24/1/2020) sekitar pukul 12.30 Wita.

Korban kemudian dibawa ke pos depan Bank Panin Monumen Groundzero. Wayan Widarta (terdakwa 2) lalu bertanya kepada saksi Muhammad Lutfi (alm) "mengapa mencuri helm", dan dijawab "tidak tahu".

Saat diinterogasi, saksi berusaha melarikan diri hingga kemudian terdakwa Wayan Widarta menginjak paha saksi, serta memegangi tangannya agar tidak melarikan diri.

Melihat itu, terdakwa Wayan Sudanta (terdakwa 3) mencekik leher belakang dan melipat tangan saksi sehingga saksi tidak dapat bergerak sama sekali.

Bersamaan, Wayan Miasa (terdakwa 4) memukul kepala saksi menggunakan tangan kosong, serta terdakwa Wayan Mahendra (terdakwa 1) menginjak paha, memukul kepala serta menendang hingga saksi jatuh ke lantai dan pingsan.

"Terdakwa I, II dan terdakwa III kemudian menaikkan saksi ke mobil Linmas untuk selanjutnya dibawa ke kantor polisi," ujar jaksa.

Berdasarkan Hasil Rekam Medis Kasus Kekerasan (Visum Et Repertum) Nomor: Y.R 02.03/XIV.4.4.7/42/2020, yang ditandatangani oleh dokter Ida Bagus Putu Alit, SpFM(K), DFM terhadap korban, ditemukan beragam luka di kepala.

Sedangkan yang mengakibatkan korban meninggal dunia yakni kekerasan di tumpul leher. (EL)



TAGS :

Komentar