Cek Fakta: Tidak Ada Tanda-tanda Kekerasan dalam Hilangnya Iptu Tomi Marbun di Kali Rawara

Rabu, 02 April 2025 16:13 WITA

Card image

Suasana proses pencarian anggota Polres Teluk Bintuni yang hanyut dan hilang. (Foto: Istimewa)

Males Baca?

Bintuni - Kuasa Hukum Anggota Resmob Polres Teluk Bintuni Yohanes Akwan, SH, M.A.P, C.LA., menunjukkan rasa prihatin atas peristiwa hanyut dan hilangnya Iptu Tomi S. Marbun di Kali Rawara.

"Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dalam menghadapi kenyataan ini," ucap Akwan, Rabu (2/4/2025).

Sebagai kuasa hukum dari anggota Resmob yang mengalami doxxing dan fitnah di media sosial, Akwan menilai hal ini penting bagi publik untuk memahami fakta terkait hilangnya Iptu Tomi Marbun yang merupakan mantan Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni.

Dari hasil penelusuran mendalam, pihaknya tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau unsur kesengajaan dari Satuan Resmob Polres Teluk Bintuni dalam kejadian ini.

"Klien kami, anggota Resmob, telah memberikan keterangan secara terbuka dalam pemeriksaan oleh tim pusat. Termasuk dua anggota Brimob yang berada di seberang kali bersama Iptu Tomi sebelum menyeberang, mereka juga telah dimintai keterangan," tutur Akwan.

Sebagai jawaban atas pertanyaan dari istri Iptu Tomi Marbun yang disampaikan ke publik:

1. Istri menyatakan bahwa Iptu Tomi ingin merayakan Natal dengan anaknya dan enggan mengikuti operasi, tetapi didesak.
   Jawaban: Operasi yang dijalankan adalah "Operasi Petik Bintang" untuk memantau aktivitas KKB di Moskona Barat. Ini adalah perintah negara yang wajib dilaksanakan oleh Iptu Tomi sebagai komandan operasi.

2. Istri menyebutkan bahwa Tomi akan dimutasi dan hendak bersekolah Pendidikan PTIK.
   Jawaban: Informasi ini sesuai dengan keterangan salah satu anggota Resmob. Operasi yang dijalankan merupakan tugas terakhir sebelum Iptu Tomi berencana akan melanjutkan pendidikan.

3. Istri menyatakan bahwa Polres Teluk Bintuni tidak menunjukkan empati atas kejadian ini.
   Jawaban: Kami sangat bersimpati. Iptu Tomi adalah saudara bagi Polres Teluk Bintuni. Kehadirannya selama 3,5 tahun menjadikannya keluarga besar bagi Polres Teluk Bintuni, yang tentunya kejadian ini sangat menghantam keluarga Polres beserta anggotanya.

Saat peristiwa terjadi, fokus utama Polres adalah mencari keberadaannya.

Publik juga perlu mengetahui bahwa selama 3,5 tahun pengejaran terhadap KKB di Moskona, Iptu Tomi sering diminta untuk tidak ikut operasi demi keselamatannya. Namun, pada operasi terakhir ini, untuk pertama kalinya ia bergabung dengan tim gabungan TNI dan harus menempuh perjalanan hingga 60 km menuju markas KKB.

Pada 28 Desember 2024, pukul 21.00 WIT, bertempat di Pos Kotis Pamrawan TNI AD di Mayado AKP Purn Gelora Tarigan mertua Tomi melakukan klarifikasi pemeriksaan langsung ke saksi saksi TNI dan Polri yang terdiri dari tim 12 yang melihat langsung kejadian serta salah satu pejabat utama Polda Papua Barat Daya  bersama  Letting Tomi mendatangani di Manokwari cepu yang ikut kegiatan penyeberangan basah dengan berenang mengatakan bahwa Tomi memaksa ke anggota timnya bersama cepu untuk berenang, jelas bahwa hal Ini menegaskan bahwa tidak ada rekayasa atau sabotase dalam insiden ini.

4. Istri menyatakan bahwa masyarakat tidak menemukan adanya kontak tembak dan menyebut Tomi hanyut secara misterius.
   Jawaban: Masyarakat telah membantu pencarian, tetapi hasilnya tidak dapat menjelaskan detail kronologi secara keseluruhan. Ini adalah musibah.

5. Istri menyebut pencarian tidak maksimal.
   Jawaban: Tugas penyelamatan berada di bawah kewenangan Tim SAR. Polres telah bersurat, dan kelanjutan pencarian merupakan tanggung jawab Tim SAR.

6. Istri menyatakan bahwa tugas ini harusnya tidak menggunakan uang pribadi Tomi sebesar Rp30 juta.
   Jawaban: Dana operasi bersumber dari pos Operasi Petik Bintang. dan Iptu Tomi telah mengajukan rincian kebutuhan operasional kepada Polda Papua Barat melalui Polres Teluk Bintuni. Di masa menunggu cairnya uang operasional ini, Iptu Tomi sendiri yang berinisiatif untuk menggunakan uang pribadinya sebagai dana operasional yang akan di-reimburse ketika dana operasional tersebut turun. Tidak ada perintah dari atasan untuk Iptu Tomi menggunakan uang pribadinya.

7. Istri menyoroti video yang menunjukkan tim hanya berjalan di air setinggi lutut dan tidak menggunakan body vest.
   Jawaban: Dari keterangan saksi tim 12, sebelum menyeberang mereka menitipkan barang-barang kepada tim 8 yang juga dibentuk oleh Iptu Tomi. Tim 12 yang bertugas melakukan perimeter harus menyusuri aliran kali sebelum mencapai titik penyeberangan.

CB awal dari tim 20 yang dipimpin Iptu Tomi hanya bertugas memantau, tetapi keputusan untuk mengubah strategi dan menyeberang langsung diambil oleh Iptu Tomi sendiri. Keputusan ini disaksikan oleh dua perwira TNI AD dan seluruh anggota tim. Dengan demikian, berdasarkan aturan operasi, tanggung jawab taktis di lapangan berada sepenuhnya di tangan Iptu Tomi Marbun sebagai komandan operasi.

"Kami berharap penjelasan ini dapat memberikan kejelasan kepada publik mengenai fakta kejadian yang sebenarnya," pungkasnya.

Reporter: M. Ahmad


Komentar

Berita Lainnya